Tampilkan postingan dengan label Nasionalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2010

Menapaki Jejak Reformasi

Jejak reformasi yang di tandai dengan lengsernya presiden RI ke dua pada tanggal 21 Mei 1998. Meninggalkan segudang pertanyaan, salah satunya adalah ; Dari sisi mana kita hendak mengobati penyakit bangsa yang telah kronis dan juga komplikasi ?

Meminjam kosa kata dokter, apa yang sedang di derita bangsa ini sungguh penyakit-penyakit yang telah akut dan menaun. Nah dalam kondisi yang seperti ini, selain analisa dan diagnosa yang tajam dibutuhkan juga resep yang mujarab serta pemilihan prioritas utama, mengenai panyakit mana yang hendak di obati terlebih dahulu. Dan dalam hal ini, anggap saja semua dokter yang sudah ada adalah para dokter spesialis yang siap bekerja sama untuk mengobati pasien yang telah kronis ini.

Dari diagnosa tiap – tiap dokter, teridentifikasi sebuah penyakit diantaranya :
01. Penyakit Mental Korup dan korupsi yang gila-gilaan
02. Penyakit Rendahnya rasa nasionalisme
03. Penyakit Penegakan supremasi hukum yang lemah
04. Penyakit Ekonomi yang kian amburadul
05. Penyakit Budaya ketimuran yang kian luntur
06. Penyakit Pendidikan yang carut marut
Nah dari diagnosa ini ternyata semua telah mengalami tingkat keparahan yang luar biasa. Sehingga para dokter bersikukuh untuk bisa mengobati semua penyakit tersebut secara bersamaan. Dan tidak ada skala prioritas.

Sayangnya dana yang di butuhkan untuk bisa mengobati semua penyakit tersebut secara bersamaan cukup besar dan si-pasien yang sedang sakit ini tidak memiliki dana yang cukup. Lalu apa yang bisa kita lakukan ?
“ Gampang, kita pinjam saja pada IMF. Selesai perkara “ kata kepala keluarga pasien. Walhasil dana pinjamanpun mengucur dengan bunga yang tdk sedikit. Wuah….harapan terbentang lebar akan kesembuhan penyakit pasien. Inilah hingar – bingarnya suasana reformasi pada tahap awal.

Satu persatu para dokter sibuk mempersiapkan resepnya sendiri-sendiri dan mulai dijalankan. Pengobatan demi penghobatan terus dilakukan sejak 1998 hingga sekarang 2010. Sudah 10 tahun lebih, penyakit pasien ini belum begitu kelihatan tanda-tanda makin membaik. Saya juga tidak abis pikir, bagaimana para dokter bisa menyembuhkan penyakit si pasien, jikalau dalam proses mengobati pasien, para dokter selalu berperang untuk memenangkan kepentingan dirinya ? saya sendiri kadang geli melihatnya…
01. Ada dokter yang over acting ketika memberikan resep….
02. Ada dokter yang suka cari perhatian dan simpatik ketika mengobati pasien….
03. Gilanya lagi, ada yang bukan dokter asli dan berani ngaku dokter, lalu dengan PEDEnya memberikan resep ini dan itu….
Jika kita biarkan sperti ini terus menerus, bukan tidak mungkin lama kelamaan si pasien akan mati dengan sendirinya. Dan ini saya yakin kita semua tidak menghendakinya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat awan…?
Apakah kita perlu berkumpul di sebuah daerah untuk membuat sebuah deklarasi bersama bahwa kita perlu mengganti para dokter yg sudah ada dengan dokter-dokter muda yg profesional ?
Dimana kita bisa menemukan kaum muda yang berjiwa dokter profesional saat ini ?
Ataukah kita justru tdk membutuhkan para dokter itu lagi ?
Biarlah kita sebagai masyarakat yang akan jadi dokternya…
Atau apakah yang saat ini kita butuhkan adalah tokoh yang mampu menggugah jiwa-jiwa kebangsaan ini tumbuh menjadi jiwa-jiwa patriot yang nasionalis.

Cukup lama saya menantikan lahirnya tokoh ini….hingga akhirnya saya yang hina dina ini memberanikan diri u angkat bicara.
Dengan satu optimisme bahwa :
  1. Masih cukup banyak elemen masyarakat yang peduli terhadap penyakit pasien yang sedang di derita hingga detik ini. Dan mau untuk berperan aktif menyembuhkan penyakitnya.
  2. Kerelaan golongan ini tidak dilandasi oleh kepentingan apapun kecuali hanya ingin melihat bumi pertiwi tersenyum kembali.
Optimisme ini juga perlu saya sampaikan pada saudara-saudara kita semua dimanapun kita berada. Bahwa ketika Tuhan menguji bangsa ini dalam keadaan sperti ini, sesungguhnya bangsa kita mampu keluar dr kemelut dan sembuh dr penyakit yg sedang di derita. Ini pas dan selaras dengan sebuah firman yang berbunyi “ Tuhan tidak akan menguji suatu kaum diluar batas kemampuan-nya “.
Walau demikian kalimat atau Firman Tuhan tersebut tidak berhenti disitu saja. Masih ada kalimat lain yg ini harus kita catat tebal, yakni bahwa “ Tuhan tidak akan pernah mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau untuk berubah “.

Lalu bagaimana agar kita bisa berubah, keluar dr kemelut bangsa yang kian suram ??? sembuh dari berbagai penyakit ???

01. Mari kita banguan “ Kesadaran diri “ yang tinggi.
Mari kita bangun sebuah kesadaran bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, bangsa kita adalah bangsa beradab, bangsa kita adalah bangsa yang kaya raya baik budaya maupun alam. Dan semua itu adalah nikmat yang telah Tuhan berikan pada bangsa untuk anak dan cucu kita, sudahkah kita mensyukurunya dengan sebenar-benarnya syukur?
“ Barangsiapa yang mau bersyukur atas nikmatKu, maka niscaya nikmatKu akan Aku lipat gandakan. Dan barangsiapa yang kufur / ingkar terhadap nikmatKu, niscaya siksaKu sungguh sangat pedih “
Jika kita telah menyadari ini semua dan menjalankan konsep syukur dan kesadaran diri yang tinggi, saya yakin bangsa kita akan segera sembuh dr sakit yg sedang di derita hingga detik ini. Dan jika saat ini bangsa kita sakit sperti ini, itu semua tidak lebih karena kita telah ingkar alias kufur terhadap semua karunia dan nikamatNya.
Dimana letak kekufuran kita ? mari kita bercermin pada apa yang di maksud dengan “ KAWAH CANDRADHIMUKA “. Bercermin pada diri sendiri.
  • Kita telah memperlakukan alam dengan tidak adil, dengan exploitasi yang habis-habisan demi kepentingan segelintir orang dan atau golongan. Hal ini pula yang menjadikan bencana alam tercipta dimana-mana.
  • Kita telah ingkar dengan amanah atau kepercayaan yang telah masyarakat berikan ( suara rakyat adalah suara Tuhan ). Korupsi dan kolusi ada dimana-mana, bagaimana kita bisa menjadi negara maju dan kaya kembali, jika semua kekayaan telah habis di korup ?
  • Kita telah semena-mena dengan hukum kita sendiri, hukum yang kita buat sendiri, dengan enggan untuk menegak-kan supremasi hukum yang ada. Pantas saja ketidak adilan merajalela dimana-mana.
  • Kita enggan membayar zakat dan enggan untuk berEMPATI dengan sesama. Pantas saja kemiskinan merajalela di bumi nusantara.
  • Kita telah mengubur Pancasila dalam lemari besi, hanya menjadikannya sebagai barang pajangan saja. Padahal Pancasila kita adalah ideologi bangsa yang dengan susah payah di rumuskan atas dasar budaya, sejarah dan cita-cita bangsa. Kita enggan membuka kitab suci kita untuk kita pelajari bersama dan mengamalkan-nya dalam praktek kehidupan keseharian. Kita justru lebih suka searching, blogging, dan membaca budaya2x barat yg jelas sekali budaya itu tidak bisa kita terapkan dalam kultur kita sebagai bangsa yang berbeda dengan bangsa lain.
Jika secara kesatria kita semua mau u mengakui apa yang tercermin dalam diri atau dalam Candra Dhimuka. Saya yakin kita akan tersentak dan tersadar, kemudian segera bergegas untuk berbenah. Menata diri dan keluarga. Menata lingkungan dan sekitarnya hingga akhirnya kita bisa kembali menata bangsa ini dengan pondasi yang lebih kuat.

02. Mari kita banguan rasa “ Tau Diri “ yang tinggi.
Mari kita gali kembali sejarah bangsa yang telah usang. Kita pelajari kembali sejarah bangsa kita dengan benar. Kita tuturkan pada anak didik kita hingga generasi bangsa saat ini dan yang akan datang dapat menghargai sejarah bangsanya. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya?

Mari kita pelajari bersama geografi kita, kita gali kembali potensi bangsa kita saat ini. Apa yang masih bisa kita pertahankan dari potensi yang ada. Apa yang bisa menjadikan masyarakat pada lapisan bawah merasa tenang? Penuhi kebutuhan dan mari kita jawab dan pecahkan permasalahan bangsa yang ada dengan gotong royong, bahu membahu dan terus membangun kemitraan dimanapun kita berada.

Mari kita gali kembali para tokoh bangsa yang telah luar biasa berjasa pada negara dan belum mendapatkan apresiasi yang bagus. Baik itu pendidik, aparat, abri, tokoh agama, tokoh budaya, kaum intelak dll.
Apakah kita perlu membuat lembaga riset ttg penghargaan ini ?

Mari kita gali kembali keragamaan seni dan budaya kita yang membuat bangsa lain ngiler melihat kemolekannya. Dan mulai berbusaha u melestarikan-nya. Dan mendokumentasikan-nya sebagai aset bangsa yang luar biasa u rakyat.

Dan jika kita telah Tau bahwa ternyata bangsa kita memang bangsa yang besar baik dr sisi sejarah, budaya maupun sumber daya alam dan manusianya. Apakah kita mesti pesimis dalam menatap masa depan kita ?


03. Mari kita banguan rasa “ Kenal Diri “ yang tinggi.
Setelah kita Tau bahwa kita ternyata adalah bangsa yang besar baik dr sisi sejarah, budaya maupun sumber daya alam dan manusianya. Saatnya kita mulai bergerak untuk terlibat secara aktif :
  • Mempelajari dan mengamalkan budaya-budaya kita yg adiluhung.
  • Melestarikan kesenian dan mengaplikasikan nilai2x kesenian kita pada kehidupan masyarakat.
  • Membudayakan budaya, seni dan nilai2x seni kita pada dunia pendidikan baik formal maupun non formal.
  • Memperlakukan alam dengan bijak dengan memperhatikan kelestarian demi anak dan cucu kita.
Dengan begitu kita akan mejadi kenal dengan keragaman seni dan budaya yang kita miliki. Kita juga akan makin faham mengenai potensi dan juga kekurangan serta permasalahan yang ada dan yang akan hadir di tengah2x masyarakat kita. Semakin jauh kita kenali lingkungan kita bersama maka akan semakin kita faham bahwa untuk membuat sebuah kebijakan yang benar2x membela kepentingan rakyat dan masyarakat umum. Sesungguhnya bukanlah pekerjaan yang sulit dan juga tidak harus mengorbankan banyak hal serta membuang dana yang berlimpah.

Masih banyak tenaga-tenaga terdidik dan pemikiran-pemikian anak muda bangsa yang jujur dan profesional yang belum terpakai dalam keterlibatan pembangunan bangsa. Golongan ini adalah golongan orang – orang yang enggan bersinggunan dengan bau busuk politik.
Mereka hanya inginkan ibu pertiwi tersenyum kembali…hlaah dah dua kali saya tulis kalimat ini….


04. Mari kita banguan rasa “ Mengenal Diri “ yang tinggi.
Dalam konteks ini, pembangunan dan pengobatan penyakit bangsa ini akan menjadi semakin dinamis manakala seluruh elemen bangsa makin mau untuk mengenali diri. Baik potensi maupun kekurangan yang ada. Potensi ini tentunya akan di jadikan sebagai pengembangan pembangunan masyarakat. Sedangkan jika kita semakin mengenali kekurangan diri ini, kita akan semakin tau apa kelemahan kita dan kita harus berusaha untuk menjadikan kekurangan tersebut sebuah peluang dalam proses pembangunan dan penyembuhan penyakit bangsa.

“ Becik ketitik, olo ketoro “ yang baik itu pada akhirnya akan terlihat, sedangkan yang jelak pada akhirnya juga akan ketahuan. Marilah kita semua berusaha untuk memahami kalimat tersebut dengan benar.
Jika kita faham maka jika kita korup tentu kita tdk akan berani u mengkampanyekan pemberantasan korupsi. Bisa-bisa kita sendiri yg di berantas nantinya…. Hehehehe…

Semakin kita mengenali ideologi kita Pancasila, kita semakin yakin bahwa tidak ada ideologi yang luar biasa dan pas untuk di terapkan di bumi pertiwi yg bhineka tunggal ika, kecuali ideologi Pancasila. Sehingga ketika kita mau bicara ttg demokrasipun, demokrasi kitapun sesungguhnya juga berbeda dengan demokrasi amerika, dan juga negara manapun. Sayangnya krn kepentingan segolongan org atau segelitir org, akhirnya org atau kelompok tersebut memaksakan demokrasi barat untuk di terapkan di bangsa kita. Ya amburadullllllll……………dari sinilah akhirnya kita mulai tersadar u bisa kembali menemukan identitas demokrasi indonesia. Identitas demokrasi pancasila, dimana dan sperti apa yg masyarakat inginkan.

Semakin kita mengenali seni dan budaya kita, semakin kita yakin bahwa kita akan bisa bangkit dr keterpurukan menjadi negara maju justru bukan dr sisi teknologi dll, tetapi kita justru akan bangkit dan maju dari sisi seni dan budaya.
Walau demikian, agar kita bisa bangkit, kita membutuhkan kestabilan dan berkecukupan-nya sandang, pangan lan papan u seluruh lapisan masyarakat.
Dari sinilah kita akan menyadari dunia pertanian dan perikanan harus mulai di programkan dengan fokus yang luar biasa dr lembaga yang mengurusi hal tersebut.

Semakin kita mengetahui bawa harkat dan martabat bangsa ini juga penting dalam membangun bela negara serta menjaga teritotial bangsa. Militer harus bisa mendapatkan peralatan yg layak dan juga pembangunan patriotisme dan nasionalisme yg benar. Demikian juga penjaga ketertiban umum dalam hal ini kepolisian.

Semakin kita mengenal bahwa semakin banyak partai akan menimbulkan pemborosan yg luar biasa dalam anggaran negara dan semakin memberikan peluang yg lebar bagi para penjahat politik. Maka wacana pembentukan dua partai atau 3 partai maksimal dr partai yg sudah ada. Nampaknya harus mulai di gelontorkan. Agar semakin jelas kinerja pemerintah krn adanya oposan yg prograsif, aktif dan spektakuler serta bombastis dalam menyikapi kinerjanya. ( halah kayak acara bukan empat mata saja ya………)


05. Mari kita temukan “ Jati Diri.
Penemukan JATI DIRI baik pribadi maupun bangsa, adalah sebuah proses perjalanan PENDIDIKIAN peri kehidupan.Dalam hal ini dunia pendidikan baik formal maupun non formal sangat berpengaruh terhadap proses penemuan JATI DIRI ini anak bangsa.

Lalu dunia pendidikan bangsa yang seperti apa yang bisa menghantarkan peserta didik pada proses penemuan jati diri ?

Carut marutnya dunia pendidikan kita inilah yang menjadi salah satu momok penyebab penyakit bangsa susah di sembukan. Jika momok ini bisa kita selesaikan dengan baik dan sigap. Saya yakin dunia pendidikan kita akan menjadi tumpuan harapan lahirnya indonesia baru yang lebih beradap dan lebih bermartabat.

Bukan hanya gedung yang fasilitas serta sarana dan prasarana saja yang mesti di benahi.

Bukan hanya bantuan dana pendidikan bagi org yg tdk mampu serta pendidikan murah atau gratis saja yg harus di gelontorkan pada masyarakat.

Tetapi PEMBENAHAN MENTAL PENGAJAR menjadi MENTAL PENDIDIK bagi para guru-pun harus di lakukan.

Sebagai salah satu contoh pentingnya pembenahan mental dr pengajar ke pendidik. Di kamung saya, cukup banyak guru yg dtg ke sekolah u mengajar dengan kepala kosong, alias tdk tau materi apa yg akan di ajarkan. Sehingga begitu sampai di kelas, ya anak-anak hanya di minta untuk mengerjakan soal, menulis sesuatu yg sama sekali tdk ada keterkaitan-nya dengan kebutuhan perkembangan proses pendidikan bagi peserta didik.
Belum lagi masalah nilai pada rapor yg semua mata pelajaran nilainya sama dr kelas satu hingga kelas lima.
Belum lagi adanya nonton bareng film superman dan sinchan.
Belum lagi acara jalan-jalan yg tdk jelas maksud dan tujuan-nya u si peserta didik.

Inilah sebagian contoh kongkrit carut-marutnya dunia pendidikan kita yg harus di benahi bukan hanya dr sisi :
  • Fasilitas pendidikan
  • Sarana & prasarana pendidikan
  • Gaji guru
  • Gedung pendidikan
  • Biaya pendidikan
  • Kurikulum pendidikan
Tetapi dari sisi MENTALITAS GURU juga harus di benahi agar bangsa ini makin bisa terdidik generasi penerusnya.

Kalau Kaisar Jepang bisa bilang “ ada berapa guru yg tersisa paska pengeboman BOM atom di nagasaki dan herosima “. Sebagai pertanda pentingnya peran guru terhadap pembangunan bangsa.
Maka dalam tulisan inipun saya akan bilang “ ada berapa sisa guru yang memiliki jiwa dan mental pendidik di bangsa ini ? “
Dan para guru golongan inilah yang akan kita jadikan tumpuan serta harapan pembangunan Indonesia baru 10-20th kedepan.

Pekauman, 27 januari 2010
Lurah WFC
Wahono

http://umum.kompasiana.com/2010/01/28/menapaki-jejak-reformasi/
http://w4hono.wordpress.com

Senin, 09 November 2009

Aku Merintih Menangisi Ibu Pertiwi….

Tulisan ini pernah saya rilis juga di kompasiana.com, saat menjelang pemilu 2009. Saya postkan ulang di blogku sebagai dokumentasi sekaligus bisa di sharekan dengan temen-temen semua.
semoga ada manfaatnya sebagai bahan kajian dan renungan kita bersama juga.

Pilpres tinggal hitungan hari…. Ada ketakutan yang sangat mendalam yang tidak bisa aku sembunyikan… Rasa cemas itu kian kuat, rasa takut itu kian membumbung… Aku tidak tau mesti bicara dengan siapa…, mesti aku muntahkan dengan siapa… Dan akal bodohku akhirnya muncul juga. Sebuah akal bodoh sejak aku kecil dolo… Aku coba untuk tidur agar perasaan kalut itu hilang dan terlupakan…

Namun setelah aku terbangun di tengah malam… Perasaan itu kembali hadir… Tubuhku menggigil… Jiwaku merintih… “ Wahai ibu pertiwi sang pujaan… Apa yang bisa aku perbuat untukmu wahai cinta sejatiku… Aku tau engkau sedang bersedih dan sakit… Aku takut engkau akan pergi meninggalkanku…” “ Tuhan…. Jika Engkau masih sudi mendengarkan keluh kesah dan harapanku… Maka aku hanya mampu berdoa dan berharap padaMu wahai ya Rabb…. Berilah kekuatan kebesaran hati para pemimpin kami… Agar menjelang pilpres… Pada saat pilpres… Dan pasca pilpres…

Bangsa ini dapat bertahan dan tidak akan ada perpecahan… “ Panasnya pilpres benar-benar telah membakar darahku… Isu sukuisme sudah mulai di dengungkan… Dan melalui tulisan yg sederhana ini saya hanya mempu merintih… Dimana letak jiwa besar para calon pemimpin bangsaku…??? Terlalu letih bung karno mambangun bangsa ini… Menyusun balok-balok kesukuan menjadi kebhineka tunggal ika-an bangsa… Merancang ideologi bangsa dengan tetesan airmata… Membentuk undang-undang dasar dengan segenap jiwa raga… Dan merebut kemerdekaan dengan jutaan nyawa… Siapapun berhak untuk menjadi presiden bangsa ini… Suku manapun berhak untuk menjadi presiden bangsa ini… Agama apapun berhak untuk menjadi presiden bangsa ini… Karena bangsa indonesia juga keturunan bangsa nuswantara… Sejak berdirinya majapahit dan sriwijaya dulu… Karena bangsa indonesia inipun keturunan bangsa jawadwipa… Sejak sebelum sriwijaya di dirikan… Lalu mengapa mengingkarinya bahwa kita bukan dari keturunan jawa… Mau jawa ataupun bukan jawa…, kita semua tetaplah pewaris sah…tanah jawadwipa…. Dan itu artinya kita adalah pewaris sah negeri tercinta indonesia… Siapapun berhak untuk menjadi presiden… dan untuk membangun kembali bangsa ini… tidak mungkin dilakukan dengan cara menyulap… ( memangnya ini negeri dongeng ? )

semua membutuhkan sebuah proses… dan kita semua merindukan sebuah proses kearifan… sebuah proses kejujuran… sebuah proses pengabdian… sebuah proses kedewasaan… proses-proses inilah yang akan mendidik kita semua untuk menjadi para kesatria sejati dan sejatinya kesatria… dan jiwa-jiwa yang seperti inilah yang akan mampu di jadikan modal dasar membangun indonesia baru… menjadi pemimpin baru yang sah… mendobrak keangkara murkaan politik busuk… meluluh lantakan jiwa-jiwa kerdil yang licik dan picik… menghancurkan kesombongan ke-aku-an…

wahai ibu pertiwi tercinta… dengarkanlah sumpah setia kami sebagai anak bangsa… 01. Tidak akan aku biarkan bumi ini pecah berkeping-keping menjadi negara bagian… 02. Tidak akan kami berikan sedikitpun pada siapapun itu untuk merubah bahkan mengganti pancasila menjadi ideologi lain… 03. Tidak akan kami biarkan anak bangsa apalagi bangsa lain berbuat sesuatu yang menjadikan merah putih turun dari tahtanya. Apalagi merobek dan membakarnya. Terlalu dalam rasa cinta ini padamu wahai ibu pertiwi… Hingga kami rela menyerahkan darah dan nyawa kami untukmu… Semua ini kami lakukan hanya demi satu hal… “ AKU INGIN MELIHATMU TERSENYUM KEMBALI “ I love Indonesia TITIK!!!

Kebangkitan Nasional vs Kehancuran Nasional

Memperingati 101 th Kebangkitan Nasional, beberapa bulan yg lalu, yang telah di laksanakan pada tgl 20 Mei 2009, menorehkan sebuah kajian yang mendalam yang perlu di telaah sebagai kritik bagi tiap-tiap individu anak bangsa.
  1. Apa yang telah aku persembahkan untuk Bangsa / Masyarakat ?
  2. Apa yang aku tau dari bangsaku yang menamakan dirinya sebagai bangsa “Endonesia” ?
  3. Seperti apa Ideologi bangsa-ku dan sejauh mana aku memahaminya ?
  4. Seperti apa keadaan bangsa-ku saat ini ?
  5. Kapan bangsa - ku memiliki masa kajayaan sebagaimana layaknya bangsa-bangsa lain yang pernah jaya dan selalu di banggakan oleh para generasinya.
  6. Siapa tokoh bangsa - ku yang patut aku hormati, aku junjung tinggi dan aku kenang atas jasa – jasanya ?
  7. Mengapa warna bendera ”bangsa Endonesia” merah putih ?
  8. Mengapa nama bangsa – ku ” Indonesia ” sementara semua lafal / ucapan masyarakat menyebutnya dengan sebutan ” Endonesia ” ?
  9. Mengapa harus Jakarta sebagai nama dan ibukota bangsa – ku ?
  10. Mengapa Pacasila harus di simbulkan dengan gambar BURUNG GARUDA ?
  11. Mengapa harus ada kalimat ” BHINNEKA TUNGGAL IKA ” ?
    dan segudang pertanyaan lain yang menggelitik dan membuat tidur menjadi sedikit gelisah.

Dan disisi lain, banyak kalimat yang indah yang sering kita baca dan kita dengar seperti :

  1. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG FAHAM AKAN SEJARAHNYA ”
  2. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MEMPU MELAHIRKAN GENERASI YANG BANGGA AKAN BANGSANYA SENDIRI DAN MENCINTAI BUDAYANYA SENDIRI ”
  3. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MEMILIKI IDEOLOGI LUHUR, BERKARAKTER, MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA, DAN MAMPU MENJAGA HUBUNGAN DENGAN TETANGGANYA ”
  4. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MAMPU MENSYUKURI POTENSI BANGSANYA SENDIRI ”
  5. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MAMPU MEMBERIKAN CAHAYA KEHIDUPAN BAGI MASYARAKATNYA DAN JUGA BANGSA LAIN ”

Dan Bagiku :
” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG SADAR AKAN DIRINYA SENDIRI, TAU AKAN DIRINYA SENDIRI, KENAL AKAN DIRINYA SENDIRI, MENGENAL AKAN DIRINYA SENDIRI DAN TAU SIAPA JATI DIRINYA ”.

  1. Bagaimana aku akan tau siapa JATI DIRI Bangsaku, sementara aku juga tidak MENGENAL seperti apa Negaraku ?
  2. Bagaimana aku akan tau siapa JATIDIRI Bangsaku, sementara aku juga tidak KENAL seperti apa Negaraku ?
  3. Bagaimana aku akan tau siapa JATIDIRI Bangsaku, sementara aku juga tidak TAU seperti apa Negaraku ?
  4. Bagaimana aku akan tau siapa JATIDIRI Bangsaku, sementara aku juga tidak SADAR diNegara mana aku tinggal ?

Dalam tafakurku aku luluhkan kesadaranku, kebaradaanku, keadaanku dan semua keakuanku. Hingga aku menemukan sesuatu yang membuat linangan airmata mengalir seketika, dan dada terasa bergetar dahsyat.
” Betapa bangsaku saat ini telah kehilangan jati dirinya, tidak tau siapa dirinya, tidak kenal siapa dirinya bahkan tidak mengenali siapa dirinya ”.

Bangsaku lebih membanggakan tokoh bangsa lain ketimbang tokoh / pahlawan bangsanya sendiri. Peringatan hari Kartini hanya di jadikan sebuah kamuflase. Rame-rame memakai kain kebaya dan menggunakan belangkon. Sementara itu aku tak tau seperti apa perjuangan R Kartini dan tak kenal adat jawa yang ” Adiluhung ”.

Bangsaku telah ”berkiblat” pada bangsa barat, tanpa tau kemana sebenarnya kiblat yang ”sesungguhnya” yang harus di jadikan fokus hingga aku yakin bahwa ideologi bangsaku jauh lebih ”beradab” dibandingkan dengan bangsa-bangsa barat sebagaimana Soekarno doeloe bangga dengan PANCASILAnya.
Ketika baliau tau bahwa PBB di bentuk demi segelintir golongan, dengan tegas beliau membentuk organisasi tandingan yaitu negara nonblok yang kemudian di tegaskan lagi dengan menjalin persatuan dan kesatuan negara Asia dan Afrika, hingga tercetus apa yang di sebut dengan konferensi asia afrika.
Lahirnya inspirasi inipun bukan sekedar soekarno adalah tokoh pemersatu bangsa, melainkan beliau faham betul sejarah bangsanya. Bukankah patih Gadjah Mada (Majapahit 13-14m) juga pernah berikrar ” tidak akan makan enak dan tidur nyenyak sebelum NUSANTARA BERSATU ” ?

Betapa tokoh-tokoh besar sungguh sangat mencintai rakyatnya dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Dan betapa Rasullullah SAW –pun begitu sangat mencintai umatnya. Sebagaimana dikisahkan ketika Rasulullah SAW sedang menjemput ajal dan beliau baginda selalu mengucapkan ” umatku….umatku….umatku….. ” inilah the real ” DAKWAH BIL KHALK ” yang sungguh sangat dahsyat cahayanya. Dan inilah tokoh yang keharuman namanya seperti wangi surga yang akan selalu di kenang dan dibanggakan oleh masyarakat, bangsa maupun umatnya.
Lalu bagaimana dengan tokoh – tokoh bangsa kita pasca soekarno ?

Ketika aku sadari bahwa aku telah bersemayam di buni Nusantara ( endonesia ), dimana secara gografis aku telah berada pada kehidupan yang disebut ” PUSARAN BUMI atau JANTUNG BUMI ” yang bukti kongkritnya adalah terlewatinya kurun waktu 24 jam di bagi dua yaitu 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari. Dimana bangsa lain tidak memiliki waktu yang persis sebagaimana bumi yang aku pijak.
Memiliki iklim yang sangat bagus di bandingkan dengan bangsa manapun di dunia hingga nenek moyang kita menyebutnya dengan sebutan kalimat ” TANAH JAWA YANG GEMAH RIPAH LOH DJINAWI ” kemudian musisi kawawakan ” KOES PLUS ” menegaskan kembali dengan kalimat ” TONGKAT DAN KAYU JADI TANAMAN ”.
Sunggung hal tersebut adalah benar adanya. Dan sungguh hal tersebut adalah nilai lebih yang Tuhan berikan pada bangsaku.

  1. Lalu mengapa aku tidak menyadarinya?
  2. Mengapa bangsaku selalu dilanda krisis ?
  3. Mengapa sistem pendidikan bangsaku sedemikian parah dan acurnya?
  4. Mengapa politik bangsaku sedemikian biadabnya ?
  5. Mengapa uang menjadi Tuhan dalam kehidupan bangsaku ?
  6. Mengapa rasa Nasionalisme hilang dan berganti menjadi keangkuhan primordialisme ?
  7. Mengapa harus rakyat kecil yang menjadi korban kebiadaban bangsaku?

Sungguh :

  1. Rakyat membutuhkan ” Perlindungan” yang tulus bukannya perlakuan yang tidak adil dan kesemena-menaan.
  2. Rakyat membutuhkan uluran ” Kasih Sayang ” ditengah penderitaan tak berujung kapan berakhirnya.
  3. Rakyat membutuhkan ”Petunjuk” yang jelas untuk memperbaiki perikehidupannya, bukannya pertunjukan dagelan yang di sodorkan.
  4. Rakyat membutuhkan tokoh ” Pemersatu” bangsa yang mampu memberikan suri tauladan yang luhur, berjiwa besar, mencintai rakyatnya dan mempu memakmurkan umatnya.

Aku tidak akan peduli mau ada berapa ribu partai berada dalam pemilu nanti.
Yang aku pedulikan adalah bagaimana para pemimpin nanti sanggup melakukan :

  1. Mengambalikan sengat persatuan dan kesatuan bangsa kembali utuh dan tidak bercerai berai sebagaimana sekarang sedang terjadi. Bukankah agamaku Islam juga telah mengajarkan betapa persatuan dan kesatuan ”berjamaah” jauh lebih mulia di bandingkan dengan kesendirian dan ke individu-an ?
  2. Mengembalikan Ekonomi ” kerakyatan ” pada tempatnya dan menghilangkan kapitalisme, membunuh liberalisme serta memenjarakan komunisme. Hingga apa yang di sebut dengan ” kemitraan ” dan ” gotong royong ” kembali aku rasakan sebagai salah satu sejatinya perilaku adiluhung bangsaku.
  3. Menanamkan dan menumbuh kembangkan kembali ” jiwa patriotisme ” dengan semangat ” PANCASILA dan 45 ” pada diri generasi bangsa dan seluruh elemen masyakat.
  4. Mendidik anak bangsa dengan ajaran ” MORAL YANG ADI LUHUNG ” melalui pengetahuan keagaan yang benar, mencintai adat dan budaya, memahami sejarah dan menguasai teknologi, ekomoni dan politik.

HuAllahu a’lam bi sauwab….
Nampaknya bangsaku-pun sedang menjalankan kodrat-Nya, menjalankan sekenarioNya.
” Dari tidak ada menjadi ada dan kembali tidak ada ”
” Pertumbuhan bangsaku telah sampai pada masanya hingga akan sampai pada masa dimana ketika bangsa ini hendak di dirikan ”

  1. Sriwijaya hanya satu abad kejayaan yaitu 6 – 7M
  2. Majapahit pun sama satu abad kejayaan yaitu 13 – 14 M
  3. Indonesia hampir satu abad bediri yaitu ” 1945 – 2015

Mungkinkah aku sedang menanti kehancuran bangsaku ?
Ataukah perlu ada ” RUWATAN ” sebagaimana adat jawa jika ada anak kecil yang sakit-sakitan harus di ganti namanya ?
Mungkinkah Indonesia perlu di ruwat menjadi NUSANTARA sebagaimana sejarah Sriwijaya dan Majapahit menyebutnya Nusantara, ”Nusa” = Pulau dan ”Atara” = jarak ?

BERSATU KITA TEGUH BERCARAI KITA RUNTUH !!!

Banjarnegara, 10 Nov 2009

Artikel ini juga pernah di rilis di kompasiana.com bertepatan dengan agenda 101 th Kebangkitan Nasional.

Rabu, 02 September 2009

PENDIDIKAN BANGSA YANG MEMBUMI

Sedikit menelaah system pendidikan bangsa saat ini sebenarnya cukup membuat kening ini mengkerut. Enggan untuk manggut dan lebih banyak untuk geleng-geleng. Bagaimana bisa ?

Perdebatan tentang UN ( Ujian Negara ) yang belum menemukan titik temu.
Kritik pendidikan bangsa yang hanya mencetak para buruh, belum juga mendapatkan solusi tepat.

Dalam beberapa artikel di kompasiana.com bung JK ( Jusuf Kalla ) berbicara bahwa “ sudah saatnya bangsa ini terlibat dalam menentukan kwalitas pendidikan nasional. Dengan cara nemerapkan standarisasi system pendidikan berupa Ujian Negara “. Tujuan-nya jelas dan gamblang yaitu agar kwalitas pendidikan bangsa kita dapat SEJAJAR DENGAN BANGSA LAIN, misalkan sama dengan Malaysialah… Tujuan berikutnya adalah sebuah harapan yaitu terciptanya keadilan dalam dunia pendidikan. Dengan alasan setiap anak bangsa di berbagai pulau di Indonesia dapat terstandarisasi. Walhasil tidak akan ada lagi perbedaan kwalitas pendidikan antara Jawa, Papua, NTT dan lain-lain.

Dalam konteks tersebut, penulis sepakat bahwa keterlibatan negara dalam pembangunan pendidikan adalah sebuah KEWAJIBAN. Mengapa ? karena adalah HAK bagi setiap elemen bangsa untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang LAYAK. Dan ini sesuai dengan amanah UUD 1945 yaitu Negara berkewajiban turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sayangnya kitab Undang – Undang dasar kitapun tidak hanya berdiri sendiri. Karena sebagaimana di tuliskan dalam lagu Kebangsaan kitapun telah tertulis sebuah syair yang JELAS dan GAMBLANG. Bahwa sebaiknya system pendidikan bangsa kita mengacu pada konsep kalimat “ ….BANGUNLAH JIWANYA….BANGUNLAH BADANNYA…. Untuk Indonesia Raya….”.
Semoga kajian ini dapat sedikit mengingatkan kembali tentang cita-cita, maksud dan tujuan bangsa ini di bangun.

Jika kita sepakat dengan lagu kebangsaan kita yaitu lagu kebangsaan Indonesia Raya. Maka kita benar-benar harus mulai merenung bersama bahwa dimana letak system kurikulum kita yang pas dalam mendidik anak bangsanya dengan cara membangun JIWAnya terlebih dahulu baru membangun Badannya…????

Jam pelajaran agama di sekolah – sekolah baik itu SD, SMP, SMA maupun Kuliah sekalipun, angkanya boleh di hitung dengan jari. Padahal pendidikan agama adalah pra syarat MUTLAK untuk membangun jiwa-jiwa anak bangsa yang cerdas dan taqwa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti, memahami dan menghargai sejarah bangsanya”. Berapa jam pelajaran sejarah bangsa di berikan di dunia pendidikan kita ? mari kita hitung besama.

“Peradaban bangsa yang maju salah stau kriterianya adalah peradaban bangsa yang tau, kenal dan mengenal budaya bangsanya”. Berapa jam pendidikan seni dan budaya yang di ajarkan di dunia pendidikan kita…??? Mari kita menghitung bersama.

Sejarah telah mencatat bahwa, ideologi bangsa indonesia yaitu PANCASILA adalah sebuah ideologi yang besar yang hampir AKAN menjadi faham ideologi DUNIA. ( baca sejarah perang ideologi pada perang dunia ke-2). Berapa jam pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan diajarkan di dunia pendidikan kita….??? Mari kita menghitung bersama.

Setelah kita mengutak atik jam pelajaran. Maka tibalah saatnya kita sedikit mengevaluasi system pendidikan bangsa kita saat ini.

• Minimnya pendidikan agama menjadikan peserta didik kita kehilangan jiwa-nya, pintar tapi kurang berakhlak. Dimana letak budaya kita yang adiluhung?

• Minimnya pendidikan sejarah bangsa, menjadikan peserta didik kita tidak menghargai perjuangan para pejuang dan pendiri bangsa dalam membentuk bangsa Indonesia. Peserta didik tidak kenal lagi siapa Cut Nyak Dien, Diponegoro, RA Kartini, Ky Hajar Dewantoro, Syech Siti Jenar, Wisanggeni dan lain sebagainya dengan segala I’tibar ( pelajaran ) didalamnya. Bagaimana generasi kita bisa jadi bangga menjadi anak Indonesia ???

• Minimnya pendidikan seni dan budaya menjadikan anak didik kita kurang ahli dalam olah kreatifitas dan kurang cakap dalam menggali dan mengenali budaya bangsanya. Sehingga output pendidikan kita masih berorientasi menjadi pekerja atau pegawai bahkan buruh bagi negara lain.

• Minimnya pendidikan ideologi bangsa bagi anak didik kita menjadikan anak bangsa kurang mengenali bangsanya. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang BESAR. Satu-satunya bangsa yang memiliki pulau terbanyak di dunia, memiliki suku terbanyak di dunia, memiliki sumber daya alam terbanyak di dunia. Lalu mengapa kita menjadi bangsa yang miskin…???

Sejujurnya jika saya penulis hal ini, rasanya batin ini teriris…, jiwa ini menangis…, betapa Tuhan telah menganugerahkan pada kita semua sebuah kekayaan yang luar biasa di bandingkan dengan suku dan bangsa lain di dunia. Lalu mengapa kita menjadi bangsa yang miskin di dunia ??? jawabannya sudah pasti. Karena kita tidak pernah mau bersyukur dan kita kufur dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan pada kita semua.

Dimana letak keKUFURAN bangsa kita…???
Mengingat pembicaraan kita adalah tentang dunia pendidikan, maka jawaban-nyapun akan kita arahkan kepada dunia pendidikan bangsa kita.

Orientasi pendidikan kita selalu melihat keatas! Membandingkan dengan bangsa lain! Dan menstandarkan dengan Kwalitas Sumber Daya Manusia Global. Bangsa ini terlalu takut jika kita tidak segera menyiapkan diri untuk bersaing di pasar global, maka bangsa ini akan KEOK alias kalah.

Sehingga pelajaran yang wajib menjadi standar global dan harus memiliki nilai tinggi dalam UN adalah Matematika, Bahasa Ingris, Bahasa Indonesia dan Matematika lagi….
Disinilah letak keKUFURAN dunia pendidikan bangsa kita…
Kita kurang menelaah tentang pendidikan yang BERKARAKTER. Yaitu pendidikan yang menjadikan anak bangsa cinta dan bangga menjadi anak Indonesia.
Jika pendidikan kita dapat mengajarkan tentang :

1. Bagaimana membangun KESADARAN DIRI dalam konteks bagaimana kita dapat mengerti, memahami dan mensyukuri segala nikmat dan anugerah Tuhan YHE, yang telah di berikan pada kita sebagai individu maupun bangsa. Sadar bahwa Tuhan telah menganugerahkan kekayaan yang berlimpah ruah pada bangsa kita yang tidak di miliki oleh bangsa lain. Proses membangun kesadaran inilah yang akhirnya akan menjadikan peserta didik akan menggali kembali bagaimana cara mensyukuri segala anugerah tersebut agar dapat bermanfaat bagi bangsanya, masyarakatnya dan diri beserta keluarganya.

2. Bagaimana membangun rasa TAU DIRI tentang potensi dan kekurangan pada tiap anak didik dan juga bangsa, sehingga kita dapat mengembangkan potensi diri dan bangsa serta memahami kekurangan diri dan bangsa. Sehingga kita dapat mengerti siapa kita, siapa tokoh bangsa dan sejarah, siapa tokoh ekonomi, politik, teknologi dan agama serta budaya bangsa kita. Pembangunan konsep pendidikan TAU DIRI inilah yang akan mengawali rasa bangga pada anak didik kita sebagai anak Indonesia yang pintar, kreatif dan bertakwa. Menjadikan anak bangsa takjub dengan segala kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

3. Bagaimana membangun rasa KENAL DIRI pada peserta didik. Sehingga anak didik kita akan mampu mengerti dirinya dan bangsanya. Untuk apa di lahirkan di dunia, untuk apa terlahir di bangsa Indonesia. Mengerti tentang ajaran-ajaran para leluhur bangsanya, agamanya dan budayanya. Me jadikan para peserta didik kenal dengan Tuhannya yang Maha Kreatif, Pintar dan Maha Inovatif.

4. Bagaimana membangun rasa MENGENAL DIRI pada peserta didik. Sehingga anak didik kita mampu mengenali diri sendiri dan lingkungan-nya dengan baik dan benar. Menjadikan peserta didik juga mampu memilah dan memilih hal yang terbaik bagi dirinya. Hal yang baik bagi orang lain belum tentu baik untuk dirinya. Sehingga ia dapat menjadi diri sendiri dan menemukan jiwanya yang penuh dengan karakter, yang berbeda dengan siapapun di dunia. Falsafah inilah yang harus di ajarkan pada peserta didik karena Tuhanpun tidak pernah membuat milyaran makhluk manusia yang sama dengan manusia yang lain di belahan dunia ini. Semua berbeda, terbukti tidak ada satu sidik jaripun di dunia ini yang di temukan sama. Subhanalloh, Tuhan yang Maha Super Kreatif dengan segala Kasih dan sayangNya pun harus di ajarkan dalam tahab ini.

5. Bagaimana membangun rasa penemuan JATI DIRI pada anak didik kita. Sebuah muara pendidikan harus mengacu pada ending penemuan JATI DIRI ini. Jika anak telah tau tentang potensi dan kekurangan pada dirinya, tau potensi lingkungan dan bangsanya, tau akan kekurangan lingkungan dan bangsanya, kenal, mengenal sejarah dan ajaran-nya. Faham akan potensi dan kekayaan yang dimiliki bangsanya. Maka anak didik yang seperti inilah yang akan MENCINTAI DENGAN SEPENUH HATI bangsa Indonesia. Sebuah Bangsa yang ADILUHUNG, BANGSA YANG BESAR, BANGSA YANG KAYA RAYA akan sumber daya alam dan budaya.

Kelima konsep pendidikan inilah yang akan menjadikan anak didik kita menemukan jati dirinya, menemukan jati diri bangsanya, menemukan jati diri budayanya, menemukan jati diri agamanya. Sehingga ia akan bangga untuk mengatakan “ AKU ANAK INDONESIA “ sebagaimana penulis merasakan hal ini meskipun belum sampai pada tahab penemuan JATI DIRI.

Dan jika ending konsep pendidikan kita dapat berhasil pada muara tersebut diatas. Penulis yakin dengan seyakin-yakin-nya, bahwa manusia-manusia yang seperti inilah yang dapat bersaing di dunia GLOBAL nantinya. Manusia-Manusia Indonesia baru yang tidak hanya ahli dalam satu bidang semata, namun manusia-manusia indonesia yang MULTI TALLENT, cerdas, kreatif, inovatif dan Bertaqwa.
Selamat datang perubahan…!
Selamat datang manusia Indonesia baru…!

Semoga tulisan ini ada manfaatnya…
I LOVE U FULL MY INDONESIA !!!

Pekauman, Madukara, Banjarnegara, 03 September 2009
Wahono
 

Tagline WFC - 01

Landasan Pikiran
Tuhan tidak akan pernah menguji suatu kaum diluar batas kemampuannya.
Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau untuk berubah.
Barang siapa bersyukur atas nikmatKu, maka nikmatKu akan Aku lipat gandakan. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sunguh siksaKu teramat pedih. Al-Khadis

Tagline WFC - 02

Perjuangan dan Cita-Cita
Membangun Nasionalisme tanpa dilandasi dengan pembangunan Priomordialisme yang proporsional adalah sebuah NIHILISME. by Soekarno

Tagline WFC - 03

Inspirasi & Spirit
Hanya kurang satu paku, kuda tidak bisa berjalan dengan optimal
Karena kuda yg satu tidak bisa berjalan dengan optimal, maka rombongan kurang satu kuda
Karena kurang satu kuda, pesan-nya tidak sampai
Karena pesan-nya tidak sampai, akhirnya kalah dalam pertempuran
By : 2Fast2Farious Toktyo Drift Film

Kalou kamu punya mimpi, bangun dan barjuanglah, JANGAN Tidur lagi
By Anggun C Sasmi

Tagline WFC - 04

Pengalaman Hidup
Takdir hanya dimenangkan oleh orang-orang yang mau mendekatkan diri padaNya
Pertempuran hanya dimenangkan oleh orang-oang yang mau berjuang keras dengan semangat yangg membara, penuh dengan integritas, dedikasi dan juga loyalitas.

Jika kamu tidak ingin di khianati, maka kamu tidak boleh mengkhianati
Kepercayaan hanya di dapat dari orang-orang yang jujur dan juga profesional
WongMbanjar Community Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template