Perdebatan tentang UN ( Ujian Negara ) yang belum menemukan titik temu.
Kritik pendidikan bangsa yang hanya mencetak para buruh, belum juga mendapatkan solusi tepat.
Dalam beberapa artikel di kompasiana.com bung JK ( Jusuf Kalla ) berbicara bahwa “ sudah saatnya bangsa ini terlibat dalam menentukan kwalitas pendidikan nasional. Dengan cara nemerapkan standarisasi system pendidikan berupa Ujian Negara “. Tujuan-nya jelas dan gamblang yaitu agar kwalitas pendidikan bangsa kita dapat SEJAJAR DENGAN BANGSA LAIN, misalkan sama dengan Malaysialah… Tujuan berikutnya adalah sebuah harapan yaitu terciptanya keadilan dalam dunia pendidikan. Dengan alasan setiap anak bangsa di berbagai pulau di Indonesia dapat terstandarisasi. Walhasil tidak akan ada lagi perbedaan kwalitas pendidikan antara Jawa, Papua, NTT dan lain-lain.
Dalam konteks tersebut, penulis sepakat bahwa keterlibatan negara dalam pembangunan pendidikan adalah sebuah KEWAJIBAN. Mengapa ? karena adalah HAK bagi setiap elemen bangsa untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang LAYAK. Dan ini sesuai dengan amanah UUD 1945 yaitu Negara berkewajiban turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sayangnya kitab Undang – Undang dasar kitapun tidak hanya berdiri sendiri. Karena sebagaimana di tuliskan dalam lagu Kebangsaan kitapun telah tertulis sebuah syair yang JELAS dan GAMBLANG. Bahwa sebaiknya system pendidikan bangsa kita mengacu pada konsep kalimat “ ….BANGUNLAH JIWANYA….BANGUNLAH BADANNYA…. Untuk Indonesia Raya….”.
Semoga kajian ini dapat sedikit mengingatkan kembali tentang cita-cita, maksud dan tujuan bangsa ini di bangun.
Jika kita sepakat dengan lagu kebangsaan kita yaitu lagu kebangsaan Indonesia Raya. Maka kita benar-benar harus mulai merenung bersama bahwa dimana letak system kurikulum kita yang pas dalam mendidik anak bangsanya dengan cara membangun JIWAnya terlebih dahulu baru membangun Badannya…????
Jam pelajaran agama di sekolah – sekolah baik itu SD, SMP, SMA maupun Kuliah sekalipun, angkanya boleh di hitung dengan jari. Padahal pendidikan agama adalah pra syarat MUTLAK untuk membangun jiwa-jiwa anak bangsa yang cerdas dan taqwa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti, memahami dan menghargai sejarah bangsanya”. Berapa jam pelajaran sejarah bangsa di berikan di dunia pendidikan kita ? mari kita hitung besama.
“Peradaban bangsa yang maju salah stau kriterianya adalah peradaban bangsa yang tau, kenal dan mengenal budaya bangsanya”. Berapa jam pendidikan seni dan budaya yang di ajarkan di dunia pendidikan kita…??? Mari kita menghitung bersama.
Sejarah telah mencatat bahwa, ideologi bangsa indonesia yaitu PANCASILA adalah sebuah ideologi yang besar yang hampir AKAN menjadi faham ideologi DUNIA. ( baca sejarah perang ideologi pada perang dunia ke-2). Berapa jam pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan diajarkan di dunia pendidikan kita….??? Mari kita menghitung bersama.
Setelah kita mengutak atik jam pelajaran. Maka tibalah saatnya kita sedikit mengevaluasi system pendidikan bangsa kita saat ini.
• Minimnya pendidikan agama menjadikan peserta didik kita kehilangan jiwa-nya, pintar tapi kurang berakhlak. Dimana letak budaya kita yang adiluhung?
• Minimnya pendidikan sejarah bangsa, menjadikan peserta didik kita tidak menghargai perjuangan para pejuang dan pendiri bangsa dalam membentuk bangsa Indonesia. Peserta didik tidak kenal lagi siapa Cut Nyak Dien, Diponegoro, RA Kartini, Ky Hajar Dewantoro, Syech Siti Jenar, Wisanggeni dan lain sebagainya dengan segala I’tibar ( pelajaran ) didalamnya. Bagaimana generasi kita bisa jadi bangga menjadi anak Indonesia ???
• Minimnya pendidikan seni dan budaya menjadikan anak didik kita kurang ahli dalam olah kreatifitas dan kurang cakap dalam menggali dan mengenali budaya bangsanya. Sehingga output pendidikan kita masih berorientasi menjadi pekerja atau pegawai bahkan buruh bagi negara lain.
• Minimnya pendidikan ideologi bangsa bagi anak didik kita menjadikan anak bangsa kurang mengenali bangsanya. Bahwa bangsa kita adalah bangsa yang BESAR. Satu-satunya bangsa yang memiliki pulau terbanyak di dunia, memiliki suku terbanyak di dunia, memiliki sumber daya alam terbanyak di dunia. Lalu mengapa kita menjadi bangsa yang miskin…???
Sejujurnya jika saya penulis hal ini, rasanya batin ini teriris…, jiwa ini menangis…, betapa Tuhan telah menganugerahkan pada kita semua sebuah kekayaan yang luar biasa di bandingkan dengan suku dan bangsa lain di dunia. Lalu mengapa kita menjadi bangsa yang miskin di dunia ??? jawabannya sudah pasti. Karena kita tidak pernah mau bersyukur dan kita kufur dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan pada kita semua.
Dimana letak keKUFURAN bangsa kita…???
Mengingat pembicaraan kita adalah tentang dunia pendidikan, maka jawaban-nyapun akan kita arahkan kepada dunia pendidikan bangsa kita.
Orientasi pendidikan kita selalu melihat keatas! Membandingkan dengan bangsa lain! Dan menstandarkan dengan Kwalitas Sumber Daya Manusia Global. Bangsa ini terlalu takut jika kita tidak segera menyiapkan diri untuk bersaing di pasar global, maka bangsa ini akan KEOK alias kalah.
Sehingga pelajaran yang wajib menjadi standar global dan harus memiliki nilai tinggi dalam UN adalah Matematika, Bahasa Ingris, Bahasa Indonesia dan Matematika lagi….
Disinilah letak keKUFURAN dunia pendidikan bangsa kita…
Kita kurang menelaah tentang pendidikan yang BERKARAKTER. Yaitu pendidikan yang menjadikan anak bangsa cinta dan bangga menjadi anak Indonesia.
Jika pendidikan kita dapat mengajarkan tentang :
1. Bagaimana membangun KESADARAN DIRI dalam konteks bagaimana kita dapat mengerti, memahami dan mensyukuri segala nikmat dan anugerah Tuhan YHE, yang telah di berikan pada kita sebagai individu maupun bangsa. Sadar bahwa Tuhan telah menganugerahkan kekayaan yang berlimpah ruah pada bangsa kita yang tidak di miliki oleh bangsa lain. Proses membangun kesadaran inilah yang akhirnya akan menjadikan peserta didik akan menggali kembali bagaimana cara mensyukuri segala anugerah tersebut agar dapat bermanfaat bagi bangsanya, masyarakatnya dan diri beserta keluarganya.
2. Bagaimana membangun rasa TAU DIRI tentang potensi dan kekurangan pada tiap anak didik dan juga bangsa, sehingga kita dapat mengembangkan potensi diri dan bangsa serta memahami kekurangan diri dan bangsa. Sehingga kita dapat mengerti siapa kita, siapa tokoh bangsa dan sejarah, siapa tokoh ekonomi, politik, teknologi dan agama serta budaya bangsa kita. Pembangunan konsep pendidikan TAU DIRI inilah yang akan mengawali rasa bangga pada anak didik kita sebagai anak Indonesia yang pintar, kreatif dan bertakwa. Menjadikan anak bangsa takjub dengan segala kebesaran dan kekuasaan Tuhan.
3. Bagaimana membangun rasa KENAL DIRI pada peserta didik. Sehingga anak didik kita akan mampu mengerti dirinya dan bangsanya. Untuk apa di lahirkan di dunia, untuk apa terlahir di bangsa Indonesia. Mengerti tentang ajaran-ajaran para leluhur bangsanya, agamanya dan budayanya. Me jadikan para peserta didik kenal dengan Tuhannya yang Maha Kreatif, Pintar dan Maha Inovatif.
4. Bagaimana membangun rasa MENGENAL DIRI pada peserta didik. Sehingga anak didik kita mampu mengenali diri sendiri dan lingkungan-nya dengan baik dan benar. Menjadikan peserta didik juga mampu memilah dan memilih hal yang terbaik bagi dirinya. Hal yang baik bagi orang lain belum tentu baik untuk dirinya. Sehingga ia dapat menjadi diri sendiri dan menemukan jiwanya yang penuh dengan karakter, yang berbeda dengan siapapun di dunia. Falsafah inilah yang harus di ajarkan pada peserta didik karena Tuhanpun tidak pernah membuat milyaran makhluk manusia yang sama dengan manusia yang lain di belahan dunia ini. Semua berbeda, terbukti tidak ada satu sidik jaripun di dunia ini yang di temukan sama. Subhanalloh, Tuhan yang Maha Super Kreatif dengan segala Kasih dan sayangNya pun harus di ajarkan dalam tahab ini.
5. Bagaimana membangun rasa penemuan JATI DIRI pada anak didik kita. Sebuah muara pendidikan harus mengacu pada ending penemuan JATI DIRI ini. Jika anak telah tau tentang potensi dan kekurangan pada dirinya, tau potensi lingkungan dan bangsanya, tau akan kekurangan lingkungan dan bangsanya, kenal, mengenal sejarah dan ajaran-nya. Faham akan potensi dan kekayaan yang dimiliki bangsanya. Maka anak didik yang seperti inilah yang akan MENCINTAI DENGAN SEPENUH HATI bangsa Indonesia. Sebuah Bangsa yang ADILUHUNG, BANGSA YANG BESAR, BANGSA YANG KAYA RAYA akan sumber daya alam dan budaya.
Kelima konsep pendidikan inilah yang akan menjadikan anak didik kita menemukan jati dirinya, menemukan jati diri bangsanya, menemukan jati diri budayanya, menemukan jati diri agamanya. Sehingga ia akan bangga untuk mengatakan “ AKU ANAK INDONESIA “ sebagaimana penulis merasakan hal ini meskipun belum sampai pada tahab penemuan JATI DIRI.
Dan jika ending konsep pendidikan kita dapat berhasil pada muara tersebut diatas. Penulis yakin dengan seyakin-yakin-nya, bahwa manusia-manusia yang seperti inilah yang dapat bersaing di dunia GLOBAL nantinya. Manusia-Manusia Indonesia baru yang tidak hanya ahli dalam satu bidang semata, namun manusia-manusia indonesia yang MULTI TALLENT, cerdas, kreatif, inovatif dan Bertaqwa.
Selamat datang perubahan…!
Selamat datang manusia Indonesia baru…!
Semoga tulisan ini ada manfaatnya…
I LOVE U FULL MY INDONESIA !!!
Pekauman, Madukara, Banjarnegara, 03 September 2009
Wahono

0 komentar:
Posting Komentar
matursuwun sudah perpartisipasi kasih comment di blog saya. salam wongmbanjar