Oleh : wahono. Pekauman. Madukara. Banjarnegara
Perkembangan band di Indonesia pada saat ini telah merebak sedemikian rupa. Berbagai aliran atau genre-pun terus bermunculan. Lebih dari 20.000 band dari sabang hingga merauke, baik yang baru terbentuk, senior maupun band yang sudah terkenal sekalipun. Lebih dari 100.000 anak muda, generasi penurus bangsa yang menggantungkan mimpinya di dunia musik ( band ).
Sebuah angka yang sangat fantastis dan akan terus berkembang hingga kurun waktu yang tidak di tentukan. Persoalan-nya adalah berapa jumlah mayor label yang ada di negara kita? Mari kita menghitung dengan jatri kita, baik mayor label yang bertaraf internasional seperti Sony BMG, Universal maupun mayor label yang bertaraf nasional seperti MUSICA, proSound, cepeProd dll. Angka minorlabelpun juga terbatas bahkan indie label sekalipun juga demikian. Semua bisa di hitung dengan jari, dimana angka perkembangan band dengan si pem-produksi ( label ) begitu timpang. Wal hasil teori ekonomipun berlaku, jika produktifitas terlalu tinggi sementara proses label yang memproduksi band sedikit, maka kaum band inilah yang rugi dan atau di rugikan.
Sementara hampir 90% band yang ada di Indonesia, menggantungkan mimpinya untuk dapat rekaman di mayor label. Sangat sedikit yang berani melakukan terobosan baru untuk dapat memarketingkan karya musik mereka agar publik kenal dan mengenal band dengan segala macam karya-karyanya.
Sebelum kita jauh membicarakan tentang proses produksi sebuah band dan juga bagaimana memarketingkan band. Ada hal mendasar yang harus dibenahi terlebih dahulu pada diri band-band tersebut. Terutama adalah cara pandang terhadap profesi Ngeband itu sendiri.
Berdasarkan hasil riset baik wawancara, diskusi dan sekedar ngobrol biasa dengan anak-anak band di angkringan maupun di kafe shop dan atau di distro, 90% band yang ada menganggap dirinya adalah sebagai seorang THE SELLEBRITIS dalam makna indonesia. Dimana seorang selebritis dengan segala glamournya menjadikan ending dari muara berproses ngeband-nya. Sedikit sekali yang menyadari bahwa Ngeband adalah sebuah profesi KESENIMANAN. Dalam hal ini status dan kedudukan anak band sebanarnya adalah sebagai seorang SENIMAN MUSIK. Dimana tanggungjawab seorang seniman musik adalah bagaimana berkarya dan terus berkarya melalui media musik. Nah dalam kerangka berfalsafah, filosofi seni itu sendiri jika kita terjemahkan maka pada umumnya memiliki makna bahwa karya tersebut hendaklah dapat menyadarkan umat akan suatu hal, baik itu tentang perjuangan, persahabatan, konflik, cinta, persahabatan, politik maupun religi.
Letak perbedaan cara pandang ini ternyata sangat berpengaruh sekali terhadap hasil karya yang di telurkan oleh band dan atau si seniman musik itu sendiri. Bagi band – band yang cukup exis di blantika musik nasional dan menyadari status dan kedudukan-nya, hasil karyanya pun cukup berbobot dibandingkan band-band yang asal terkenal. Apakah itu sah ? saya bilang sah-sah sadja…, bebas dalam berkarya. Persoalan-nya bukan terletak pada sah atau tidak sah. Yang harus di garis bawahi adalah kwalitas sastra dan atau seni serta nilai tanggungjawab keseniman-nannya dalam menghasilkan karya yang berbobot atau bermutu.
Barangkali kita dapat sedikit ber-romatisme, bayangkan jika ada puluhan bahkan ratusan band indonesia yang dapat tour ke berbagai benua sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Koes Plus dan Rhoma Irama dahulu kala. Betapa bangsa kita akan semakin harum namanya di dunia internasional. Selain tour sebagai media promo album, tour para seniman musik yang dalam hal ini adalah para band-pun, dapat di jadikan sebagai media promosi wisata indonesia dan juga counter isu negatif tentang Indonesia.
Dan jika kita mencermati dengan seksama keberhasilan dua band tersebut diatas kaitan-nya dengan keberhasilan mereka di kancah dunia internasional ternyata lebih di dasari oleh terciptanya sebuah pandangan yang benar tentang status dan kedudukan dirinya sebagai seorang seniman musik, yang harus dapat berkarya sebagaimana dalam ajaran falsafah seni itu sendiri. Taukah kita bahwa lagunya Koes Plus yang berjudul “ Why do you love me “ pernah menduduki tangga lagu pertama dan nangkring begitu lama di blantika musik amerika ? ( Rus darman dalam bukunya yang berjudul “ The Beatles or Koes Plus “ Lacak Jejak perjalanan & resensi lagu-lagu, penerbit Kreasi Wacana, mei 2007 ).
Ini membuktikan bahwa karya seniman musik Indonesia-pun sebenarnya mampu bersaing di kancah dunia dan atau industri musik internasional sekalipun. Sebab hal ini pernah terbukti. Nah saat ini mari kita sama-sama bercermin, selain Anggun C Sasmi, lalu siapa lagi yang hasil karyanya dapat bersaing di kancah mancanegara ? Jawaban-nya adalah selama cara pandang mengenai status dan kedudukan anak band ini belum ada perubahan maka, selama itu pula hasil karya anak-anak band saat ini hanya sekedar mengikuti tuntutan industri musik alias POP bgt. Hanya segelintir band yang cukup berhasil di level asia. Selebihnya….? Mari merenung kembali dan terus berproses anak band Indonesia….
Banjarnegara, 5 September 2009 Penulis adalah mantan EO dan anak band juga...hehehe...


0 komentar:
Posting Komentar
matursuwun sudah perpartisipasi kasih comment di blog saya. salam wongmbanjar