Tampilkan postingan dengan label seni dan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni dan budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2010

” BIASA BAE”

Mengupas sisi budaya Dieng Batur Banjarnegara
Oleh Wahono ( Lurah WFC )

Lah gari ” BIASA BAE “ si ngapa ? saya yakin kita sering sekali mendengar kalimat tersebut dalam kehidupan keseharian kita sebagai warga Banjarnegara. Dalam konteks ini saya tidak akan membahas kalimatnya. Tetapi saya justru tertarik untuk membahas dua suku kata yang ada dalam tanda kutip yakni BIASA BAE. Mengapa ? karena kata-kata tersebut telah menjadi sebuah budaya yang mengilhami dalam setiap tatanan kehiduypan rakyat Dieng Batur Banjarnegara.
Dua suku kata BIASA BAE jika  kita renungkan secara mendalam terkandung sebuah nasehat yang luar biasa untuk kita semua kaum muda Banjarnegara. Diantaranya makna atau nilai-nilai yang bisa saya jabarkan antara lain ;
  1. Andap Asor (Jawa), Rendah Hati (Indonesia), atau Tawadhu(Islam).Andhap Asor adalah sifat yang selalu berusaha untuk merendahakan hati tanpa harus merendahkan diri. Nabi Muhammad saw, juga telah memerintahkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘ (rendah hati), sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya”.  (HR Muslim)
    Di hadits lain, Rasulullah saw. mengingatkan akan jaminan bahwa orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah.” Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya)”. (HR Muslim)
    http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/02/rendah-hati-sifat-kitakah.html
  2. Larangan bersikap Aja Dhumeh (Jawa), Pamer (Indonesia), atau Riya’ (Islam).OJO DUMEH adalah peribahasa yang menasihati kita agar jangan bersikap sombong, jangan mentang-mentang meskipun kita telah menjadi orang besar atau kaya sekalipun. Riya’ adalah salah satu dari sekian penyakit hati yang sangat membahayakan bagi seseorang dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah SWT. Riya’ memiliki devinisi pamer atau memperlihatkan kebaikan yang pernah seseorang lakukan untuk mendapatkan pujian atau tujuan tertentu.
    Ini juga berlaku pada tatanan kehidupan di luar peribadahan. Misalkan kesukaan untuk memamerkan barang yang menjadi miliknya baik berupa harta benda maupun yang lain.
  3. BIASA BAE juga memiliki nilai-nilai “ berserah diri dengan sepenuh hati ” atau pasrah yang proporsional atau Ridho dengan apa yang telah di tetapkanNya. Dalam bahasa jawa kita sering mendengar sebuah kalimat “ Narino Ing Pandhum “.Menerima dengan ikhlas apa yang telah di tetapkanNya setelah berusaha atau ber ikhtiar sedemikian rupa.
    Hal inipun selaras dengan kultur Batur Dieng yang notabene penduduknya pada saat ini memeluk agama islam. Selaras dalam konteks ini yakni selaras dengan makna islam itu sendiri yang mengandung arti “ islamul wajh” ikhlas menyerahkan diri kepada Allah (QS. 4:125)
    http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=244_0_4_0_M
  4. BIASA BAE juga mengandung ajaran atau nilai-nilai tetang apa yang di maksud dengan kalimat Zuhud.Kata Zuhud sering disebut-sebut ketika kita mendengar nasehat dan seruan agar mengekang ketamakan terhadap dunia dan mengejar kenikmatannya yang fana dan pasti sirna, dan agar jangan melupakan kehidupan akhirat yang hakiki setelah kematian. Hal ini sebagaimana peringatan Allah tentang kehidupan dunia yang penuh dengan fatamorgana dan berbagai keindahan yang melalaikan dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.
    Allah berfirman, “ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Barangkali empat nilai atau makna yang saya jabarkan ini masih terlalu dangkal, oleh karenanya masukan atau tambahan mengenai makna yang mungkin lebih dalam dari perspektif kawan-kawan muda Banjarnegara, sangat saya harapkan. Sehingga kita sebagai kaum muda Banjarnegara makin mengerti dan memahami kultur yang kita miliki. Dan dengan demikian kita semakin kenal serta mengenali identitas budaya kita yang selanjutnya akan menumbuhkan benih-benih cinta pada tanah kelahiran kita yakni Banjarnegara. “ Khubbul Waton Minal Iman “ Cinta Tanah air sebagian dari iman.
BIASA BAE, kalimat sederhana yang perlu kita hayati dan kita amalkan dalam praktek kehidupan kita sebagai kaum muda dan sebagai warga Banjarnegara. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Salam kompak selalu dan jabat erat jiwa kami untuk Banjarnegara
Pekauman, Madukara, Banjarengara, 02 februari 2010
Lurah WFC
Wahono
http://facebook.com/wongmbanjarbae
http://w4hono.wordpress.com/

Jumat, 06 November 2009

Indie Yang Ngga’ Independen

Repost by wongmbanjar

Pada posting terdahulu saya sudah berbicara tentang Band, judul artikelnya kalo tdk salah " Bagaimana Membangun pondasi dasar Ngeband yang baik dan benar ".

Nah skr, saya postingkan satu artikel baru lagi yang saya ambil dari catatan FBnya temen saia. Namanya Dany, dia adalah indier sekaligus operator indie record label di daerah Malang - Jawa Timur. Kang mohon ijin-nya ya, artikel ini sy postkan lagi di blog saya. Smoga kita bisa jadi satu Team lagi dlm menggarap event di Malang. ( kapan ada event lagi ya ? hehehehe......

Posting artikel kali ini bagi saya sangat penting sekali, terutama bagi kawan-kawan band indie yang ada di banjarnegara. Mengapa ? karena hingga detik ini kita masih memiliki pengertian yang salah tentang apa itu kata " INDIE ". SMoga posting artikel saya kali ini dapat menjernihkan pengertian dan persepsi yang keliru diantara kita semua. langsung saja yuks........ :D

Kata Indie ialah berasal dari kata Independent. Tetapi harus dibedakan antara independen sebagai:
(1) status artis/band atau minor label yang tidak dikuasai/dikendalikan major label
(2) independen dalam konteks indie sebagai subkultur dan genre musik

Pengertian (1), Dimulai sejak awal abad 20 dengan kemunculan minor label seperti Vocalion atau Black Patti yang kala itu berupaya mengikis dominasi major label semacam Victor, Edison, dsb. Walaupun independensi pada pola dan jaman itu tidak menjalin akar.
Dan pengertian (2), Bertendensi serupa sebagai antitesis mainstream dengan merilis musik kaum minoritas seperti blues, bluegrass, dsb. Tapi saat itu yang terjadi sekadar rivalitas antara kapital kecil melawan kapital besar dan pergerakannya tidak bersifat integral.

Lalu di era 50-an mulai berkembang wacana independen untuk memerdekakan kreativitas dari intervensi kepentingan industri. Kendati demikian, kondisi yang tercipta tidak menghasilkan karakter signifikan. Bipolarisasi terhadap arus utama belum terwujud. Mereka memang berproduksi secara minor tapi iramanya masih mengacu ke pola major label juga. Walaupun bermotif kebebasan berekspresi, mereka hanya independen secara kapital dari major label namun orientasi musiknya tetap setipe major label.

Kecenderungan awam dalam menyikapi istilah indie adalah menyamaratakan semua yang independen sebagai “indie”. Dengan demikian itu hanya bertumpu ke unsur kata (independen) saja sebagai kemerdekaan secara harafiah dan tanpa batas.

Ada pula yang mempertanyakan “indie” dalam kapasitasnya sebagai kebebasan mutlak. Padahal independensi dalam wacana (2) sangat berbeda dengan (1). Artinya istilah indie sesungguhnya masih merujuk ke spesifikasi tertentu. Indie akan mampu dipahami secara proporsional bila ditelusuri ke konteks historis atau wacana terjadinya pembentukan istilah itu. Namun jarang ada media yang mau menggali lebih dalam. Sehingga “indie” cenderung dikotakkan sebagai musik laris manis yang cocok bagi selera awam. Sedangkan musik indie sesungguhnya yang underrated malah diabaikan. Hal semacam itulah yang kerap menimbulkan miskonsepsi publik bahwa “indie” semata-mata pola kerja dan kemurnian idealisme.

Bagaimana bila sebuah band beridealisme mainstream tapi mereka berproduksi secara swadaya? Apakah itu termasuk indie ? Tentu tidak. Karena independen secara minor label atau self-released tidak menjamin artis/label itu berkarakter indie. Karena seseorang yang berjiwa mainstream pun bisa saja menghasilkan karya berkarakter mainstream tapi dikemas secara Do-It-Yourself dengan dalih kebebasan ekspresi atau budget minim.

Kasusnya seperti gaya rambut suku indian “Mohawk” yang sudah ada sebelum punk. Namun orang cenderung menggeneralisir semua gaya rambut mohawk sebagai representasi punk. Padahal tidak semua orang yang berambut mohawk menganut ideologi punk. Demikian pula halnya pada pemahaman minor label atau self-released yang disetarakan indie, padahal keduanya bukan parameter mutlak bagi status indie.

Oleh karena itu, perlu ada pembelajaran bagi masyarakat agar mereka tidak latah terhadap istilah “indie”. Artinya publik patut memahami bahwa segala sesuatu yang independen belum tentu indie dan indie belum tentu independen (secara label). Asal mula kata independent menjadi indie bermula dari tabiat anak-anak muda Inggris yang suka memotong kata agar mempermudah pelafalan informal seperti; distribution menjadi distro, british menjadi brit, dsb. Di balik pemendekan kata independen itu kemudian terkandung sebuah definisi kontekstual indie yang menjadi basis pergerakan subkultural. Sehingga sejak masa itu tidak sembarang makna independen secara umum bisa diasosiasikan dengan indie. Namun hingga kini pun orang awam masih sering salah paham dengan menyamakan makna indie dalam wacana (2) dengan independen dalam wacana (1).

Namun seperti uraian di atas, dalam perkembangannya istilah indie mengalami perluasan makna akibat eksploitasi media massa yang menjadikannya rancu. Secara general, definisi indie di Indonesia cenderung dipublikasikan sebagai pola kerja mandiri semata. Padahal esensi indie bukan sekadar kemandiriannya saja, namun lebih kepada Roots-Character-Attitude (RCA) yang bertumpu pada resistensi terhadap mainstream. Sebagai contoh, The Smiths dan New Order dirilis oleh Warner Music namun reputasinya masih diakui sebagai band indie karena RCA mereka adalah indie. Bahkan secara internasional indie diakui sebagai genre.

Itu artinya, ada sebuah konsensus global yang memahami indie dalam spesifikasi musik tertentu. Lalu bagaimana menentukan band itu indie atau bukan? Disinilah arti penting parameter RCA yang telah disebutkan tadi. Guna mendistribusikan rekaman indie, para scenester (aktivis musik) indie membangun jalur distribusi di luar sistem mainstream yang kemudian dikenal sebagai distro. Dengan demikian, indiepop sebenarnya menerapkan unsur-unsur budaya resistensi punk walaupun para pelakunya tidak berdandan ala punk. Keistimewaan indie terletak pada jaringan kerjanya. Indie tanpa networking akan menjadi benteng tanpa prajurit.

Dalam relasinya indie cenderung lebih mengedepankan unsur humanis. Dukungan mutualisme semacam ini sebenarnya adalah warisan dari 3 dekade silam ketika indie label yang lebih besar memberi dukungan kepada indie label yang lebih kecil untuk berkembang lebih pesat tanpa mengawatirkan rivalitas pasar. Indie bergerak kepada orientasi pendengar yang segmentatif. Kalaupun akhirnya mendapat respon luas, itu dianggap senagai bonus saja. Faktor penentunya adalah sikap artis/band indie tersebut ketika mulai dikenal secara luas. Mereka harus lebih bijak dalam menjaga pakem agar karakternya tidak terseret menjadi pasaran atau kacangan.

Bisa dibilang indie yang ideal adalah indie yang ekslusif. Parameter tersebut adalah RCA yang mengacu pada subkultur indiepop itu sendiri. Singkatnya indie adalah etos cutting edge, avant garde atau budaya kreatif yang menjadi alternatif dari pola-pola musik pada umumnya.

Seiring perkembangan corak musik, indiepop masa kini secara musikal memang tidak lagi sarat dengan punk. Namun etos punk masih dan akan selalu dianut olah para musisi indiepop di belahan dunia manapun. Dengan musik yang sangat catchy dan selling, sebenarnya banyak band indiepop yang berpeluang besar untuk menjadi artis jutaan kopi dengan menawarkan demo ke major label. Namun mereka tidak melakukan itu karena orientasi mereka bukan sekadar popularitas dan kemewahan, namun lebih kepada kepuasan personal dan idealisme dalam berkarya. Bahkan ada yang menolak tawaran manggung hanya karena skala pentas dan panggungnya terlalu besar.

Sikap semacam itu pun banyak ditunjukkan band indiepop lainnya dengan menjaga jarak dengan pers umum. Inilah contoh sikap punk yang berbeda dari stereotipe artis mainstream. Musisi lokal yang memang ingin menjadi indie seharusnya banyak belajar dari situ sehingga mereka tidak menjadi popstar wannabe yang terobsesi gemerlap popularitas secara mainstream. Kurt Cobain bisa jadi contoh ideal sebagai figur musisi indie karena dia malah depresi saat musiknya kian terkenal dan pasaran. Indiepop mengajarkan pada kita bahwa pop tidak diukur dari sebarapa banyak rekaman yang terjual atau seberapa banyak penggemarnya. Ketika industri mainstream menganggap musik yang bagus harus dilegitimasi oleh hype/trend massal dan dominasi chart, indiepop secara murni menghargai musisi dari musiknya, bukan dari popularitas. Indiepop juga meyakini bahwa pop tidak harus masuk Top 40 atau diliput media mainstream. Pop dalam konteks indiepop adalah cita rasa berbalut sikap menentang mainstream.

Kurang lebih 10 tahun sudah indiepop eksis di Indonesia sebagai sebuah genre dan kultur tandingan; setipe dengan metal, punk maupun hardcore bersama fanzine-nya yang telah berkembang lebih dahulu. Bandung dan Jakarta adalah dua kota yang menjadi sentra kemunculan dan berkembangnya indiepop di negeri kita. Dari sana baru beberapa tahun kemudian indiepop mulai menyebar sampai ke Jogja, Surabaya, Semarang, bahkan hingga kota kecil seperti Purwokerto, Malang, Bogor, Salatiga, dst.

Beberapa tahun kemudian, Jakarta semakin berkembang dengan lahirnya generasi baru yang tidak sekadar terpengaruh britpop, melainkan varian yang lebih progresif (twee, jangle, bliss, folk, dsb.). Blossom Diary, Santa Monica, The Sweaters, Sugarstar, C’Mon Lennon, Ballads of the Cliché, Belladonna, dan The Sastro adalah sekian dari banyak penerus kultur indiepop saat ini. Jangkauan mereka pun makin mendunia dengan dirilisnya karya mereka oleh berbagai label indiepop di luar negeri. Perkembangan indiepop di Jakarta juga ditunjang oleh maraknya komunitas yang tersebar di hampir seluruh penjuru Ibu kota seperti Balai Pustaka, Senayan Street, dsb. Berkat pergerakan semacam itulah scene Jakarta mampu terus berkembang melalui regenerasinya yang sangat dinamis. Begitu pula dengan perkembangan scene musik di Bandung dan Jogja.

Dalam skala global, indiepop telah berkembang menjadi jaringan kerja antar bangsa yang memungkinkan terjadinya rotasi untuk saling merilis rekaman di negara masing-masing. Mereka bisa saling berkomunikasi dengan baik karena idealisme mereka terhadap indie sama-sama merujuk kepada pemahaman internasional,. Jaringan ini akan semakin solid dengan munculnya generasi baru yang tumbuh dengan idealisme mengakar dalam jiwa mereka, yaitu spirit independensi untuk selalu menjadi counter-culture terhadap musik mainstream, resistensi pada tren atau selera awam, dan idealisme self-sustain/self-indulgement yang menjadi karakter eksistensinya, seperti kawan-kawan mereka di negara lain di seluruh belahan dunia.

Semoga wacana ini bisa menjadi pengantar bagi kamu yang ingin lebih mendalami musik indie. Mulailah dengan memahami bahwa independen belum tentu indie dan indie belum tentu independen (secara label). Dari situ niscaya kamu akan memperoleh pencerahan untuk menyadari bahwa selama ini “indie” yang dimanipulasi secara mainstream adalah suatu pembodohan. Jadi kalau ada band pop non-major label yang musiknya setipe Colpdlay atau Nidji dan mereka mengklaim dirinya “indie”, berarti kamu sedang dibodohi. [ minormusik ]

Semoga bermanfaat untuk kita semua pecinta musik Indonesia.
salam WongMbanjar

Sabtu, 05 September 2009

Membangun pondasi dasar Ngenband yang baik dan benar #01

Sebuah surat terbuka untuk band-band di Indonesia yang merasa masih membutuhkan sebuah proses.
Oleh : wahono. Pekauman. Madukara. Banjarnegara


Perkembangan band di Indonesia pada saat ini telah merebak sedemikian rupa. Berbagai aliran atau genre-pun terus bermunculan. Lebih dari 20.000 band dari sabang hingga merauke, baik yang baru terbentuk, senior maupun band yang sudah terkenal sekalipun. Lebih dari 100.000 anak muda, generasi penurus bangsa yang menggantungkan mimpinya di dunia musik ( band ).


Sebuah angka yang sangat fantastis dan akan terus berkembang hingga kurun waktu yang tidak di tentukan. Persoalan-nya adalah berapa jumlah mayor label yang ada di negara kita? Mari kita menghitung dengan jatri kita, baik mayor label yang bertaraf internasional seperti Sony BMG, Universal maupun mayor label yang bertaraf nasional seperti MUSICA, proSound, cepeProd dll. Angka minorlabelpun juga terbatas bahkan indie label sekalipun juga demikian. Semua bisa di hitung dengan jari, dimana angka perkembangan band dengan si pem-produksi ( label ) begitu timpang. Wal hasil teori ekonomipun berlaku, jika produktifitas terlalu tinggi sementara proses label yang memproduksi band sedikit, maka kaum band inilah yang rugi dan atau di rugikan.


Sementara hampir 90% band yang ada di Indonesia, menggantungkan mimpinya untuk dapat rekaman di mayor label. Sangat sedikit yang berani melakukan terobosan baru untuk dapat memarketingkan karya musik mereka agar publik kenal dan mengenal band dengan segala macam karya-karyanya.


Sebelum kita jauh membicarakan tentang proses produksi sebuah band dan juga bagaimana memarketingkan band. Ada hal mendasar yang harus dibenahi terlebih dahulu pada diri band-band tersebut. Terutama adalah cara pandang terhadap profesi Ngeband itu sendiri.


Berdasarkan hasil riset baik wawancara, diskusi dan sekedar ngobrol biasa dengan anak-anak band di angkringan maupun di kafe shop dan atau di distro, 90% band yang ada menganggap dirinya adalah sebagai seorang THE SELLEBRITIS dalam makna indonesia. Dimana seorang selebritis dengan segala glamournya menjadikan ending dari muara berproses ngeband-nya. Sedikit sekali yang menyadari bahwa Ngeband adalah sebuah profesi KESENIMANAN. Dalam hal ini status dan kedudukan anak band sebanarnya adalah sebagai seorang SENIMAN MUSIK. Dimana tanggungjawab seorang seniman musik adalah bagaimana berkarya dan terus berkarya melalui media musik. Nah dalam kerangka berfalsafah, filosofi seni itu sendiri jika kita terjemahkan maka pada umumnya memiliki makna bahwa karya tersebut hendaklah dapat menyadarkan umat akan suatu hal, baik itu tentang perjuangan, persahabatan, konflik, cinta, persahabatan, politik maupun religi.


Letak perbedaan cara pandang ini ternyata sangat berpengaruh sekali terhadap hasil karya yang di telurkan oleh band dan atau si seniman musik itu sendiri. Bagi band – band yang cukup exis di blantika musik nasional dan menyadari status dan kedudukan-nya, hasil karyanya pun cukup berbobot dibandingkan band-band yang asal terkenal. Apakah itu sah ? saya bilang sah-sah sadja…, bebas dalam berkarya. Persoalan-nya bukan terletak pada sah atau tidak sah. Yang harus di garis bawahi adalah kwalitas sastra dan atau seni serta nilai tanggungjawab keseniman-nannya dalam menghasilkan karya yang berbobot atau bermutu.


Barangkali kita dapat sedikit ber-romatisme, bayangkan jika ada puluhan bahkan ratusan band indonesia yang dapat tour ke berbagai benua sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Koes Plus dan Rhoma Irama dahulu kala. Betapa bangsa kita akan semakin harum namanya di dunia internasional. Selain tour sebagai media promo album, tour para seniman musik yang dalam hal ini adalah para band-pun, dapat di jadikan sebagai media promosi wisata indonesia dan juga counter isu negatif tentang Indonesia.


Dan jika kita mencermati dengan seksama keberhasilan dua band tersebut diatas kaitan-nya dengan keberhasilan mereka di kancah dunia internasional ternyata lebih di dasari oleh terciptanya sebuah pandangan yang benar tentang status dan kedudukan dirinya sebagai seorang seniman musik, yang harus dapat berkarya sebagaimana dalam ajaran falsafah seni itu sendiri. Taukah kita bahwa lagunya Koes Plus yang berjudul “ Why do you love me “ pernah menduduki tangga lagu pertama dan nangkring begitu lama di blantika musik amerika ? ( Rus darman dalam bukunya yang berjudul “ The Beatles or Koes Plus “ Lacak Jejak perjalanan & resensi lagu-lagu, penerbit Kreasi Wacana, mei 2007 ).


Ini membuktikan bahwa karya seniman musik Indonesia-pun sebenarnya mampu bersaing di kancah dunia dan atau industri musik internasional sekalipun. Sebab hal ini pernah terbukti. Nah saat ini mari kita sama-sama bercermin, selain Anggun C Sasmi, lalu siapa lagi yang hasil karyanya dapat bersaing di kancah mancanegara ? Jawaban-nya adalah selama cara pandang mengenai status dan kedudukan anak band ini belum ada perubahan maka, selama itu pula hasil karya anak-anak band saat ini hanya sekedar mengikuti tuntutan industri musik alias POP bgt. Hanya segelintir band yang cukup berhasil di level asia. Selebihnya….? Mari merenung kembali dan terus berproses anak band Indonesia….

Banjarnegara, 5 September 2009 Penulis adalah mantan EO dan anak band juga...hehehe...

Selasa, 25 Agustus 2009

Untuk sahabat lamaku…

Letih sudah kumencarimu hingga ke ujung dunia….
Separuh waktuku tlah habis untuk mencumbumu walau hanya dalam angan…
Separuh ragaku kosong…
Separuh jiwaku linglung…

Mengapa harus km yg hadir dalam alam mayaku…
Dunia mimpi yg sudah aku kubur dalam-dalam…
Seketika luluh lantak karena hadirmu…

Sahabat…
Jika batin ini merintih…
Maka dengarkanlah…
Aku adalah sahabat lamamu
Dan kamupun pernah berjanji demikian…
Sudikah km mengirim berita walau itu hanya lewat embun pagi…?
Tak usah kita bersua…jika km tidak menginginkan-nya…
Doaku akan tetap menemani km hingga dunia ini berakhir…

Sidengen, Pekauman, Madukara, Banjarnegara, 26 Agustus 2009
Wahono

Selasa, 21 Juli 2009

AKU YANG TIDAK ADA

Aku adalah aku...
Aku bukanlah siapa-siapa...
Aku hanyalah bagian kecil dari ciptaan-Nya...
Jika aku menyebutku sebagai manusia...
Maka aku adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lain...
Telah diberikan amanah pertama berupa pengabdian seutuhnya yakni hanya menjadi Abdullah yang baik....
Jika aku telah "sampai" maka amanahMu yang kedua boleh disandangnya yaitu sebagai khalifatullah...

Bagaimana agar aku bisa menjadi khalifatullah yang baik...?
Ternyata aku dituntut untuk lulus satu fase yaitu menjadi pemimpin yang baik bagi diriku sendiri...
Lalu...bagaimana agar aku dapat memimpin yang baik bagi diriku sendiri….?
Ternyata aku harus tau terlebih dahulu bagaimana menjadi abdullah yang baik....
Trus...bagaimana aku harus jadi abdullah yang baik...?
Ternyata aku harus tau dan belajar tentang makrifat...
Dan bagaimana agar akun dapat bermakrifat...?
Ternyata aku harus mengenali diri sendiri dengan baik....
Bagaimana aku dapat mengenali diri sendiri dengan baik...?
Ternyata aku harus menumbuhkan kesadaran diri yang tinggi.
Dari titik kesadaran diri inilah akhirnya aku dapat bersyukur dengan sepenuh hati....
Dan dari ungkapan syukur yang tulus inilah akhirnya aku menemukan sebuah kata " rasa tau diri yang mendalam "
Dan dari sinilah aku dapat kenal dan mengenali siapa aku, bagaimana aku, mengapa aku dan knapa aku....

Hidup hanyalah Senda Gurau...
Hidup hanyalah Laksana Mampir Minum...
Hidup adalah Panggung Sandiwara...
Hidup adalah Perjuangan...
Hidup adalah Pilihan...
Hidup adalah Pengabdian…
Han hidup adalah Ibadah...

Jika hidup ini adalah mati....maka mati itulah sebenarnya hidup...
Jika hidup itu tidak ada...maka tidak ada itulah sebanarnya ada dan hidup...
Apa yang aku ketahui saat ini, sebanarnya aku juga tidak tau....
Aku hanyalah sekedar aktor yang telah tercasting olehNya...
Aku tidak begitu faham apa peran yang ku mainkan saat ini...
Aku hanya tau bahwa aku harus bertasbih, bertahmid, dan bertahlil di setiap waktuku...
Hidupku semata-mata pengabdian untukNya...
Menjalani peran sebaik-baiknya...
Agar tidak sampai salah casting atau bahkan lari dari job description...
Sambil menikmati prosesnya dari waktu ke waktu...
Dan segala hasil, sepenuhnya hak mutlakNya...
Aku hanya mampu berharap dan tiada yang lain hanya berharap...

Sebuah harapan tak berarti sebuah keharusan...
Tetapi sebuah harapan yang telah terbentang…,
Adalah laksana sajadah panjang membentang,
Harapan yang telah tersiram oleh air kesucian berupa landasan iktikad….
Maka iktikad inilah yang dikudian hari terus aku bakar...
Agar dapat menjadi sebuah kata TEKAD.
Dan tekad yang membara inilah yang aku jadikan kekuatan untuk terus berjuang untuk mewujudkan harapan...
Berhan bakar cinta, menggunakan NOZ kasih dan turbo power sayang....
Ku berdiri tegap menghadapkan wajahku menuju kiblatMu...
Menjadi imam bagi pendamping hidup dan buah hati....
Hingga ajal menjemput menuju gerbang keabadian....
Berlari mecari rasul pembimbing menuju cintaMu yg abadi...suci...tulus...dan agung....

Malang, 09 feb 2009 | 01.54
Wahono with love
The United Indonesian Indie Revolution
 

Tagline WFC - 01

Landasan Pikiran
Tuhan tidak akan pernah menguji suatu kaum diluar batas kemampuannya.
Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau untuk berubah.
Barang siapa bersyukur atas nikmatKu, maka nikmatKu akan Aku lipat gandakan. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sunguh siksaKu teramat pedih. Al-Khadis

Tagline WFC - 02

Perjuangan dan Cita-Cita
Membangun Nasionalisme tanpa dilandasi dengan pembangunan Priomordialisme yang proporsional adalah sebuah NIHILISME. by Soekarno

Tagline WFC - 03

Inspirasi & Spirit
Hanya kurang satu paku, kuda tidak bisa berjalan dengan optimal
Karena kuda yg satu tidak bisa berjalan dengan optimal, maka rombongan kurang satu kuda
Karena kurang satu kuda, pesan-nya tidak sampai
Karena pesan-nya tidak sampai, akhirnya kalah dalam pertempuran
By : 2Fast2Farious Toktyo Drift Film

Kalou kamu punya mimpi, bangun dan barjuanglah, JANGAN Tidur lagi
By Anggun C Sasmi

Tagline WFC - 04

Pengalaman Hidup
Takdir hanya dimenangkan oleh orang-orang yang mau mendekatkan diri padaNya
Pertempuran hanya dimenangkan oleh orang-oang yang mau berjuang keras dengan semangat yangg membara, penuh dengan integritas, dedikasi dan juga loyalitas.

Jika kamu tidak ingin di khianati, maka kamu tidak boleh mengkhianati
Kepercayaan hanya di dapat dari orang-orang yang jujur dan juga profesional
WongMbanjar Community Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template